![]() |
Salah satu keluarga kubur di kuburan Desa Anjani |
Lebih dari Sekadar Mengunjungi Makam
Ziarah kubur di Lombok bukan sekadar kunjungan fisik ke makam. Lebih dari itu, ini adalah momen spiritual untuk merenungkan kehidupan dan kematian. Para peziarah dengan khidmat membacakan surat Yasin, melantunkan zikir, dan tahlil, memohon ampunan serta rahmat bagi almarhum dan almarhumah. Suasana haru dan khusyuk menyelimuti pemakaman, di mana doa-doa dipanjatkan dengan tulus.
Puncak Keramaian dan Suasana Haru
Pantauan di berbagai pemakaman, seperti di Desa Anjani, menunjukkan betapa tradisi ini begitu melekat di hati masyarakat. Sejak pagi buta, para peziarah mulai berdatangan, dan puncaknya terjadi setelah sholat Id hingga sore hari. Mereka membersihkan makam, menaburkan bunga, dan memanjatkan doa dengan penuh khidmat.
"Ini adalah cara kami menunjukkan bakti kepada orang tua. Dengan berziarah, kami tidak hanya mendoakan mereka, tetapi juga mengingatkan diri akan kematian," ungkap seorang peziarah di Desa Anjani, Senin (31/03).
Mempererat Silaturahmi dan Mengenang Jasa Leluhur
Tradisi ziarah kubur juga menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga. Di tengah kesibukan sehari-hari, Idul Fitri menjadi saat yang tepat untuk berkumpul dan mengenang jasa para leluhur. Momen ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan baik dengan keluarga, baik yang masih hidup maupun yang telah tiada.
Tradisi yang Terus Dilestarikan
Ziarah kubur adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Lombok. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun, menjadi pengingat akan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi. Di tengah modernisasi, masyarakat Lombok tetap teguh melestarikan tradisi ini, menjadikannya bagian penting dari perayaan Idul Fitri. (RS)
Ikuti kami di berita google